Dorong Orang Kaya Belanja, Pemerintah Perlu Ubah Stimulus Pajak

Dorong Orang Kaya Belanja, Pemerintah Perlu Ubah Stimulus Pajak

Indonesia sah krisis karena perkembangan ekonomi di kuartal II minus 5,32 % serta kuartal III minus 3,49 %. Salah satunya pemicu tidak tumbuhnya perekonomian Indonesia ini sebab konsumsi rumah tangga yang rendah, terutamanya kelompok menengah atas atau orang kaya yang malas belanjakan uangnya sepanjang wabah covid-19.

Lalu bagaimanakah supaya kelompok menengah atas belanjakan uangnya? Bukannya simpan uang di bank.

Pemerhati Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menjelaskan, berdasar data Instansi Penjamin Simpanan (LPS) per Juni 2020 memperlihatkan nilai simpanan rekening di atas Rp 5 miliar bertambah 7,3 % semenjak awalnya tahun.

Lalu, kelas tinggi atau orang kaya khususnya yang mempunyai simpanan di atas Rp 5 miliar nampak mengubah dana ke simpanan dibanding belanja.

Saat itu kelas tinggi atau 20 % barisan pengeluaran teratas mempunyai andil di atas 45 % dari keseluruhan pengeluaran nasional. Berarti, nyaris 1/2 konsumsi tergantung pada sikap berbelanja warga kelas tinggi.

“Jadi benar-benar berarti dalam membuat perkembangan konsumsi rumah tangga. Yang menjadi aspek terpenting ialah kecemasan berbelanja ketika wabah masih tinggi penyebarannya, serta selaku mengantisipasi krisis ekonomi,” kata Bhima ke Liputan6.com, Jumat (6/11/2020).

Lanjut Bhima, trend konsumsi kelas tinggi akan rendah, sepanjang masalah positif masih di atas 3.000-4.000 masalah /hari. Orang kaya yang umum beli mobil eksklusif tetapi sebab ada kecemasan terkena Covid-19, bidang otomotif juga terdampak.

Umumnya orang kaya liburan panjang melancong keluar negeri atau ke tujuan rekreasi misalkan ke Bali, tetapi sekarang ini banyak tempat rekreasi yang belum maksimal. Mal serta restaurant alami pengurangan yang tajam dari segi omzet sebab kebatasan untuk dine in atau makan dalam tempat.

“Jadi di kuartal III konsumsi masih kontraksi cukup dalam. Dianjurkan ganti stimulan pajak dari stimulan korporasi seperti pengurangan PPh tubuh jadi stimulan langsung ke arah konsumsi akhir,” katanya.

Misalkan penundaan sesaat PPN 10 % dalam 3-6 bulan, sebab kelas tinggi atau orang kaya ini kan membeli makan di restaurant, hotel terkena PPN 10 %. Bila itu dibatalkan dapat menggerakkan stimulan konsumsi.

“Minimal dalam 3-5 kuartal di depan baru ada pemulihan konsumsi kelas tinggi yang maksimal. Itu juga logikanya vaksin diketemukan, serta masalah positif dapat didesak. Sepanjang wabah belum teratasi serta mobilisasi warga masih rendah karena itu orang kaya masih pilih untuk saving,” ujarnya.

Awalnya, Tubuh Pusat Statistik (BPS) memberikan laporan konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2020 alami kontraksi sebesar minus 4,0 %. Perolehan ini lebih bagus dibanding status pada kuartal II-2020 yang terdaftar minus 5,5 %.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, konsumsi rumah tangga masih benar-benar terbatas di kuartal III-2020 ini. Hal tersebut karena, sebab pada masa Juli – September keadaan wabah Covid-19 lagi ada pada pucuknya.

“Konsumsi dari rumah tangga kelas menengah atas terbatas. Ini karena keadaan covid memanglah belum usai,” katanya dalam video konferensi, di Jakarta, Kamis (5/11/2020).

Sri Mulyani menjelaskan, watak dari konsumsi rumah tangga menengah atas dikuasai oleh barang serta layanan yang peka pada mobilisasi. Hingga, imbas dari wabah covid-19, otomatis meredam konsumsi kelas menengah atas.

“Adanya Covid-19 di mana mobilisasi jadi terbatas, karena itu konsumsi kelas menengah atas jadi ketahan,” katanya.

Oleh karenanya, salah satunya usaha pemerintahan untuk mengangkat kembali lagi konsumsi rumah tangga dengan penemuan vaksin.

Dengan begitu, keinginan akan ada vaksin itu sanggup kembalikan trend konsumsi rumah tangga khususnya barisan menengah atas.

“Hingga pembaruan diinginkan serta dipercaya akan berlangsung pada uartal ke-4 dan sebagainya,” pungkas Sri Mulyani.

Sudah diketahui, pada kuartal III 2020, perkembangan perekonomian Indonesia terdaftar minus 3,49 % secara year on year (yoy).

Walau demikian, ekonomi kuartal III tumbuh 5,05 % dibanding dengan kuartal II, serta secara year to date (ytd) semenjak kuartal I s/d kuartal III, ekonomi terdaftar minus 2,03 %.

Wabah covid-19 pada akhirnya menggeret Indonesia ke jurang krisis. Tubuh Pusat Statistik papar perkembangan ekonomi indonesia di kuartal ke-3 minus 3,49 %.

error: Content is protected !!